| Perahu Pinisi |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | |
| Monday, 04 August 2008 | |
Perbedaan yang paling fundamental dari pembuatan perahu pinisi dengan technologi pembuatan kapal barat adalah, kalau orang barat buat perahu dari rangkanya dulu baru dindingnya, tapi pembuatan pinisi tradisionil dimulai dengan dinding dulu baru setelah itu rangkanya. Segala tehnik dan peraturan pembuatan perahu jaman dulu pernah dibukukan yang dinamakan "Jaya Langkara" menurut para tetua di Ara , buku itu pernah dipinjam orang Belanda, hingga kini belum dikembalikan.Sedangkan aturan peletakan papan papan teras dan aturan aturan dasar lainnya dalam pembuatan pinisi ini disusun oleh Ruling . Sampai sekarang dalam pembuatan perahu pinisi aturan Ruling inilah yang menjadi pedomannya. Disamping itu orang Bugis memiliki undang undang pelayaran dan perdagangan yang disusun oleh "Ammana Gappa" yang namanya sempat diabadikan pada pelayaran expedisi pinisi ke Madagaskar. WARISAN KEJAYAAN MASA LAMPAU
Dalam buku Pasang SurutKerajaan Merina Sejarah Sebuah Negara Yang Didirikan OIeh Perantau-perantau Indonesia di Madagaskar, S. Tasrief, S.H., menyebutkan bahwa bangsa Indonesia pertama kali datang ke Madagaskar pada abad ke 2 dan ke 4. Gelombang kedua datang pada abad ke 10. Gelombang terakhir orang Indonesia ke Madagaskar terjadi pada abad ke l7,yakni orang-orang dari Kerajaan Sriwijaya. Bahkan, pendatang dan Indonesia tersebut menetap dan mendinkan sebuah kerajaan bernama Merina. Tentulah perjalanan orang-orang Indonesia melintasi samudera itu menggunakan perahu yang kuat. Boleh jadi perahu jenis pinisi. Awak perahu besar itu niscaya harus mempunyai kemampuan ilmu kelautan yang tinggi .Ini membuktikan bahwa pelaut pelaut Indonesia pastilah pelaut-pelaut ulung dan tangguh. Yang menarik dalam buku tersebut adalah tanda tanya mengenai motivasi para pelaut Indonesia datang ke Madagaskar. Ape yang mereka cari sejauh itu? Besar dugaan bahwa mereka mencari daratan baru bukan karena tekanan politik atau ekonomi di tanah air, me-lainkan sernata-mata karena didorong oleh rasa ingin tahu daerah asing. Dengan kata lain, terdorong oleh naluri melaut.
Pada abad ke 14, misalnya, Kerajaan Kutai telah mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Persahabatan tersebut dimulai dengan kedatangan tamu penting dari Bugis. Bangsawan Bugis itu datang dengan perahu besar yang megah, merapat di hulu Sungai Mahakam. Kedatangan bangsawan Bugis ini adalah awal persahabatan antara Orang Bugis dengan kerajaan Kutai. Catatan sejarah kemudian menyebutkan bahwa akhir-nya orang-orang Bugis ikut mewarnai kekuasaan kerajaan Kutai. Pada abad ke 17, Kerajaan Gowa sedang kuat-kuatnya. Kerajaan mi dipimpin oleh seorang pelaut ulung, Somba Tomaparisi' Kallonna. Karena letaknya yang strategis, Gowa menempatkan dirinya sebagai pintu gerbang armada niaga dan armada perang yang datang dan negeri Barat, seperti Eropa, Persia, India, Tiongkok dan sebagainya. Waktu itu, Kerajaan Gowa disegani, baik di Nusantara, maupun negara lain. Goa memiliki armada dagang dan armada perang yang kuat. Bahkan, Goa memiliki kapal cepat yang mampu mengontrol laIu lintas pelayaran Nusantara. Masih ada catatan sejarah yang menunjukkan peran besar pelaut Indonesia, khususnya dari negeri asal pinisi. Di Semenanjung Malaka, pada awal abad ke 18, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Kesultanan (Kerajaan Riau Lingga) dengan Bendahara Johor. Juga dikarenakan invasi orang-orang Minangkabau.Peristiwa ini mengundang campur tangan bangsawan Bugis dan Luwuk dan Sulawesi Selatan. Setelah sengketa tersebut reda, bangsawan dari Bugis diberi jabatan Yang Dipertuan Muda Johor, Riau Lingga dan Pahang. Gelar ini satu tingkat di bawah Yang Dipertuan Besar. Jabatan tersebut diberikan secara turun termurun. Di Pulau Penyengat, dimana pusat pemerintahan Riau Lingga pernah berdiri, orang Bugis pun punya andil dalam kebudayaan Melayu. Raja Ali Haji yang melahirkan "Gurindam Dua Belas" adalah pujangga Riau lama yang berasal dari Bugis, putra dari Raja Achmad. Ia bangga sekali dengan keturunannya dan sangat menentang setiap perubahan atas adat istiadat Melayu. Di Pontianak, Ketapang, Kalimantan Barat, Orang Bugis sangat kuat pengaruhnya. Dan catatan-catatan sejarah itu dapat dibuktikan bahwa pelaut-pelaut Bugis terbilang sangat disegani dan cukup berpengaruh, bukan saja di samudera luas, melainkan juga di berbagai daerah, sekaligus berbagai sektor kehidupan. Dan itu sangat dimungkinkan oleh peran armada laut mereka yang hebat. Berbilang abad ketangguhan itu tak terkikis oleh ombak tak hancur oleh hempasan gelombang. Bahkan sampai kini, dengan menggalakkan negara Maritim kembali , armada laut tradisionil tetap diperlukan untuk Indonesia yang sedang berReformasi ini. Indonesia Media/Kar497 |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Monday, 04 August 2008 ) |
| < Sebelumnya |
|---|
















